My New Inspiration FF

Hallo readers *sok banyak pengikut aja*.
Ngomongin masalah FF baruku nih, aku udah dapet ending ceritanya tapi kok ngerasa bingung ya sama jalan ceritanya. Baru dapet segini nih, see yaa...

Cute Girl In Insadong 

Sore hari jam 5
“kyuhyuuuuun” teriak seorang yeoja tua dari bawah sana.
“ne, eomma. Ada apa?” tanyaku pada yeoja tua itu. Ya, dia adalah ibuku. Aku hanya hidup berdua bersama ibuku. Sebenarnya aku mempunyai adik laki-laki, tapi dia entah kemana pergi meninggalkan aku dan ibuku 2 tahun yang lalu. Sedangkan ayahku telah meninggal dunia.
“sudah minum obatmu belum?” tanya ibuku masih dengan suara melengking.
“ne, eomma. Aku sedang meminumnya” aku membalasnya dengan teriakan juga.
Langsung saja kuambil 1 butir pil dan segelas air yang sudah disiapkan di meja belajarku. Tapi ketika aku ingin menelan pil dengan air, ada suara ketukan pintu dari arah pintu kamarku.
Tokk... Tokk... Tokk...
Dengan cepat kubuka pintu kamar dengan mulut yang masih dipenuhi air. Ternyata diluar sana, didepan pintu kamarku sudah berdiri seorang yeoja tua yang tak lain adalah ibuku.
“sudah kau minum obatmu?” tanyanya lagi.
Kutunjuk mulutku yang masih berisikan air ini untuk memberitahu kepada ibuku bahwa aku telah meminum obatnya. Sesudah itu, kutelan pil ku dengan air dihadapannya. Kulihat ibuku hanya tersenyum kecil.
“eomma, aku ini kan sudah besar. Masa harus di abseni terus untuk meminum obat saja?” tanyaku sambil mengerenyitkan alis.
“kau sudah besar? Hahaha” tawa ibuku lalu menghilang dari hadapanku.
“oh ya, eomma!” aku berteriak keluar kamar untuk menghentikan langkah ibuku itu.
“hari ini aku akan pergi bersama eunhyuk, leeteuk, donghae, dan sungmin ke Insadong. Boleh kan?” tanyaku padanya.
“boleh” jawabnya singkat. Lalu meninggalkanku lagi.
Malam hari jam setengah 8...
aku berniat untuk pergi bersenang-senang dengan temanku ke insadong. Mereka menyuruhku untuk datang jam 8 dan bertemu di toko lukisan dekat air mancur. Karena sekarang jam menunjukkan pukul 7.30, langsung saja ku ganti baju kaos ku ini dengan kemeja berlengan panjang yang sedikit kulipat, dan celana jeans yang mengatung disertai sepatu converse ku. Langsung saja kuturun kebawah untuk berpamitan kepada ibuku.
Ternyata dibawah sana sudah ada ibuku yang sedang menonton tv dengan asyiknya.
“eomma, aku pergi dulu yaa” kataku sambil melambaikan tangan. Dan seperti biasa, dia selalu menanyakan apakah aku sudah membawa obatku atau belum.
“kau sudah membawa obatmu?” lalu dia menghampiriku dan mengabaikan acara talk show faforitnya.
“sudah, eomma. Ini ada di tas...” perkataanku terhenti sejenak. Aku baru menyadari bahwa aku meninggalkan tasku di kamar dan lupa membawanya. Ketika aku melirik wajah ibuku, ternyata ia sudah tersenyum lebar dan sudah siap untuk memarahiku.
“ini yang kau maksud sudah besar? sama tas sendiri saja, kau sudah lupa. Bagaimana bisa kau menyuruh eomma untuk tidak mengabsenimu dari pagi hingga pagi lagi kalau kau seperti ini?” tanyanya panjang lebar.
“ne, ne, ne. Akan kuambil” aku meninggalkannya dan pergi keatas dengan wajah yang sudah memerah.
5 menit kemudian...
Aku langsung menyelonong saja pergi meninggalkan ibuku, lalu ibuku memanggilku.
“kyuhyun, nanti kamu pulang jam berapa? Jangan malam-malam ya.. Ingat, minum obatmu”
“tenang eomma, aku akan meminumnya” kataku menghampirinya dan langsung memeluknya erat.
setelah 2 menit berpelukan, aku melepaskan pelukanku dan pamit pergi.
30 menit setelah sampai di Insadong...
Lokasi Insadong tak jauh dari tempat tinggalku, jadi aku memilih kereta bawah tanah untuk menjadi alat transportasiku kesana. Setelah 30 menit, aku sampai di Insadong. Namun tak kutemukan batang hidung mancungnya eunhyuk, donghae, sungmin dan leeteuk. Jadi aku berjalan-jalan sebentar dulu melihat Insadong di malam hari dengan cahaya lampu toko-toko sebelah kiri dan kananku. Keadaan disana sangat ramai, dengan suara penjual dan pembeli yang saling berinteraksi.
Tiba-tiba, datang gadis kecil manis menghampiriku. Tingginya sekitar 120 centimeter.
“oppa, bisa kau bantu aku?” tanyanya kepadaku dengan wajah aegyonya.
Kubungkukkan badanku untuk menjajari tingginya, dan agar ia tidak terlalu susah untuk selalu mendongakkan kepalanya.
“ne, bantu apa?” tanyaku dengan senyuman lebar.
Lalu tiba-tiba saja gadis kecil itu menggenggam tanganku dan menarikku untuk mengikuti langkahnya. Aku bingung, namun aku terlanjur memberinya harapan.
Ketika telah berada di air mancur, gadis kecil itu menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya.
“oppa, namaku Soon Hye. Bisa kau memberikan ini pada yeoja muda yang berada disana?” tanyanya masih dengan wajah aegyo. Gadis kecil itu langsung menyodorkan setangkai bunga mawar padaku, dan memintaku untuk memberikan itu pada yeoja yang sedang duduk di bangku kecil sendirian.
“untuk apa?” tanyaku kebingungan.
Gadis itu tidak menggubris pertanyaanku. Lalu kutelan air liurku dan memberanikan diri menghampiri yeoja itu tanpa tahu apa yang terjadi.
1 meter disamping yeoja itu...
Keringatku mulai bercucuran. Tanganku mulai gemetar. Akhirnya, aku tepat didepan yeoja itu. Kulihat yeoja itu melihatku bingung.
“ehm, ini untukmu” langsung saja kuberikan mawar dari gadis itu kepadanya.
“ini apa?” tanyanya.
“aku juga tak tahu. Ini dari gadis kecil bernama Soon Hye. Dia memberikan ini padaku untuk diberikan padamu. Tapi aku tak tahu untuk apa” ujarku panjang lebar.
“Soon Hye!?” yeoja itu kaget ketika aku menyebut nama gadis kecil itu. Dan ia langsung berdiri.
“ne” jawabku
“dimana dia sekarang?” tanyanya khawatir. Sepertinya soon hye itu adalah adik yeoja ini.
“oh, dia ada di san...” aku menghentikan perkataanku karena aku tidak lagi melihat soon hye.
Tiba-tiba, ketika aku sudah membalikkan badanku kearah yeoja muda itu, tak kulihat lagi wajahnya. Aku kebingungan dan bergidik dalam hati.
Dari kejauhan, terlihat namja-namja yang tak asing lagi. Mereka eunhyuk, donghae, leeteuk dan sungmin. Ketika mereka persis didepanku, mereka kebingungan karena wajahku yang tiba-tiba berubah pucat.

“Hey, kyuhyun!!” teriak eunhyuk dari kejauhan sana, sambil melambai-lambaikan tangannya.
Aku tidak menggubrisnya.
“Kyuhyun!!!” leeteuk ikut berteriak seperti memastikan bahwa mereka tidak memanggil orang yang salah.
“Eh,iya?” tanyaku seperti baru sadar dari lamunan.
“Udah lama nunggu disini kyu?” tanya sungmin.
Lagi-lagi aku tak menjawab pertanyaan mereka, bahkan pertanyaan sungmin, teman dekatku pun tak aku jawab.
“Kyu? Kamu gak kenapa-kenapa kan?” tanya donghae sambil memegang pundakku dan menggoyangkan tubuhku. Barulah aku sadar.
“kenapa?... Eh, kalian udah pada datang?” tanyaku.
“iya, kamu kenapa kyu? Kok mukamu pucet gitu?” tanya sungmin khawatir.
“ah, masa?” tanyaku balik sambil memegang wajah putihku ini.
Tiba-tiba penglihatanku jadi hitam dan kepalaku terasa pusing, akhirnya...
“Buuuuuuuk” aku terjatuh. Tepatnya, aku pingsan didepan air mancur di Insadong.

Di Rumah Sakit dekat Insadong...
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing sekali, aku memegangnya dan memukul berulang kali kepalaku ini. Kubuka kedua mataku perlahan-lahan. Kulihat seorang yeoja berada dihadapanku sambil melihatku dengan tatapan cemas. Lalu yeoja itu langsung berteriak memanggil yang lainnya.
“aku ada dimana sekarang?” tanyaku sambil memicingkan mata.
“kamu sekarang ada dirumah sakit” jawab yeoja itu.
Terdengar langkah kaki berlari perlahan-lahan mendekatiku.
“kyu, kamu sudah sadar?” tanya sungmin dengan tangisannya.
“iya, aku gak kenapa-kenapa. Kenapa aku bisa disini?” tanyaku sambil mencoba untuk duduk namun ditahan oleh yeoja itu.
“Jangan, kamu belum kuat untuk duduk” katanya halus.
“kyu, apa kamu sudah meminum obatmu?” tanya leeteuk.
“belum” jawabku singkat.
“ya ampun, kamu itu selalu saja lupa dengan kewajiban meminum obatmu” kata leeteuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“kamu tahu? Sungmin menangis ketika melihat kau seperti ini. Jangan buat hyung kita bersedih terus” kata eunhyuk memasang wajah cemas.
“hyung, maaf telah membuat mu menangis” jawabku lirih.
“oh iya, ini ada Eun soo” kata leeteuk memeperkenalkan yeoja itu.
“kau? Bukannya kau yang berada di Insadong itu?” tanyaku kaget.
“Kalian... sudah saling kenal?” tanya eunhyuk.
“ani. Kami tak sengaja bertemu sebelum kalian datang” kataku memperjelas.




“baguslah kalau begitu. Sebetulnya kami menyuruhmu datang ke Insadong  bukan cuma hanya refreshing, tapi juga ingin memperkenalkan  eun soo padamu” kata sungmin.
“padaku? Untuk apa?” tanyaku.
“jadi eun soo ini yeoja yang akan membantu kita di dorm. Setelah nenek Kim pergi, tidak ada lagi orang yang membantu kita membersihkan dorm kan?” pekik leeteuk panjang lebar.
Ya, memang setelah nenek Kim masa kontraknya habis dan ia juga sudah terlalu tua, tidak ada lagi yang membantu mengurus dorm super junior.
“tapi hyung, kita masih punya eunhyuk untuk membersihkan dorm?” pekik donghae sambil mengangkat alisnya seperti meledek eunhyuk. Kulihat wajah eunhyuk yang cemberut karena harus ditumpukkan dengan tugas mengepel, menyapu, dan mencuci pakaian para member.
“iya, tapi kita jangan terlalu mengandalkan eunhyuk. Kasian kan kalau eunhyuk kecapekan, trus dorm lagi kotor dia harus mikirin untuk membersihkan dorm juga? Lagian belakangan ini jadwal kamu sama eunhyuk juga udah mulai padet. Mulai dari jadwal comeback eunhae, sama drama musikalnya eunhyuk, Fame” kata leeteuk sambil menasihati donghae.
“adikmu dimana?” tanyaku pada eun soo dan memotong nasihat leeteuk.
“dia...” perkataan eun soo terhenti.
“dia itu bukan adikku” lalu ia melanjutkan perkataannya.
aku sontak kaget ketika ia berkata seperti itu.
“dia bukan adikmu? Trus mengapa kau terlihat panik ketika aku menyebut namanya?” kataku terbata-bata.
“ng...hmm. Tadi aku juga punya nasib yang sama sepertimu. Ketika aku sedang berjalan di Insadong, aku juga didatangi oleh gadis kecil itu” katanya sambil menceritakan hal itu dengan nada semangat.
“soo hye maksudmu?” tanyaku masih tak percaya.
lalu dia hanya membalas dengan anggukkan.
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanya donghae ingin tahu.
“tidak ada apa-apa” aku menyembunyikan hal itu kepada yang lainnya takut-takut mereka menertawaiku karena bisa-bisanya aku dibodohi oleh seorang gadis kecil.

To be continued....
 

ELF(F) Page Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos