Chae Rim’s POV
“hey!” tiba-tiba seorang namja memanggilku yang sedang menikmati bunga Canola bermekaran di Pulau Jeju. Namja itu langsung memukul pundakku ketika ia berada dibelakangku.
“aih, kau mengganggu saja. Ada apa?” tanyaku sedikit kesal.
“maaf maaf. Tidak ada apa-apa. Oh ya, kemarin aku baru mengajak yeojachingu ku pergi ke seoul tower. Hmm, tepatnya ke namsan tower” ceritanya panjang lebar.
“kau bilang tadi tidak ada yang ingin kau katakan, tapi ternyata sekarang kau berbicara panjang lebar tentang kisah mu bersama yeojachingu mu itu di namsan. Huh, kau begitu labil” ujarku sambil terus menatap hamparan kuning bunga canola.
“hehe, maaf sekali lagi. Oh ya, disana aku dan yeojaku menulis nama kami digembok merah jambu. Ya ampun, so sweet banget deh pokoknya. Trus kami ...” belum selesai min woo berbicara, aku langsung meninggalkannya dan membuat ia mematung karena sikapku ini.
Min Woo’s POV
“hey!” tiba-tiba seorang namja memanggilku yang sedang menikmati bunga Canola bermekaran di Pulau Jeju. Namja itu langsung memukul pundakku ketika ia berada dibelakangku.
“aih, kau mengganggu saja. Ada apa?” tanyaku sedikit kesal.
“maaf maaf. Tidak ada apa-apa. Oh ya, kemarin aku baru mengajak yeojachingu ku pergi ke seoul tower. Hmm, tepatnya ke namsan tower” ceritanya panjang lebar.
“kau bilang tadi tidak ada yang ingin kau katakan, tapi ternyata sekarang kau berbicara panjang lebar tentang kisah mu bersama yeojachingu mu itu di namsan. Huh, kau begitu labil” ujarku sambil terus menatap hamparan kuning bunga canola.
“hehe, maaf sekali lagi. Oh ya, disana aku dan yeojaku menulis nama kami digembok merah jambu. Ya ampun, so sweet banget deh pokoknya. Trus kami ...” belum selesai min woo berbicara, aku langsung meninggalkannya dan membuat ia mematung karena sikapku ini.
Min Woo’s POV
“Trus kami ...” belum selesai aku berbicara dengannya, tiba-tiba chae rim langsung meninggalkanku dan pergi menghilang entah kemana. Aku sungguh kaget ketika ia meninggalkanku seenaknya. Chae rim sama sekali belum pernah berbuat ini kepadaku. Ia selalu mendengarkan kisah sedih, senang yang aku lontarkan dari mulutku. Namun sekarang tidak. “Ada apa dengannya?” sebenarnya kata-kata itu yang ingin aku tanyakan padanya sejak awal. Tapi aku tak bisa, aku terlalu takut menyinggung perasaannya dan mencampuri urusannya. Jadi aku terpaksa mengurungkan niatku itu.
Chae Rim’s POV
“Ya ampun Min Woo, kenapa sih dia gak pernah peka sama perasaan aku sekarang? Kenapa saat dia bercerita dan aku menanggapinya dengan kata-kata yang ketus, dia bukannya bertanya apa yang terjadi denganku, tapi dia malah terus menceritakan bahwa ia habis pergi bersama ‘yeoja genit’nya itu. Min woo, min woo, aku tak suka kau bersama dia” pekikku sambil marah-marah sendiri dijalanan sesaat setelah aku meninggalkan Min Woo 15 menit yang lalu.
Aku terus berjalan dan berjalan dari pulau jeju menuju motel yang aku dan min woo sewa. Rencannya kami akan menginap di jeju ini sekitar 5 hari karena saat ini sekolah kami sedang liburan musim semi, jadi sekalian refreshing.
Ketika aku sedang mengeluarkan kunci pintu kamarku dari saku jeans ku, tiba-tiba datang seorang namja hanya berpakaian dengan handuk putih dengan wajah dan tubuh dipenuhi sabun. Namja itu terlihat meraba-raba jalannya karena matanya tertutupi oleh sabun.
“eh, apakah disana ada orang?” tanya namja itu. Aku terlihat kebingungan melihat namja itu.
“kau bertanya kepada siapa?” tanyaku.
“syukurlah. Nuna, bisa aku menumpang mandi dikamar mandimu? Tiba-tiba saja air ditempatku habis saat aku sedang membersihkan rambutku ini dengan sampo” jawab namja itu terbata-bata. Aku kasihan dengannya dan akhirnya memperbolehkan ia masuk kedalam.
Aku terus berjalan dan berjalan dari pulau jeju menuju motel yang aku dan min woo sewa. Rencannya kami akan menginap di jeju ini sekitar 5 hari karena saat ini sekolah kami sedang liburan musim semi, jadi sekalian refreshing.
Ketika aku sedang mengeluarkan kunci pintu kamarku dari saku jeans ku, tiba-tiba datang seorang namja hanya berpakaian dengan handuk putih dengan wajah dan tubuh dipenuhi sabun. Namja itu terlihat meraba-raba jalannya karena matanya tertutupi oleh sabun.
“eh, apakah disana ada orang?” tanya namja itu. Aku terlihat kebingungan melihat namja itu.
“kau bertanya kepada siapa?” tanyaku.
“syukurlah. Nuna, bisa aku menumpang mandi dikamar mandimu? Tiba-tiba saja air ditempatku habis saat aku sedang membersihkan rambutku ini dengan sampo” jawab namja itu terbata-bata. Aku kasihan dengannya dan akhirnya memperbolehkan ia masuk kedalam.
Didalam kamarku sesaat setelah namja yang belum aku kenal selesai mandi...
Namja itu terlihat keluar dari kamar mandiku dengan T-shirt putih dan jeans hitam dan tentu saja tidak dengan handuk dan sabun yang berada di tubuh dan wajahnya lagi. Namja itu berubah menjadi tampan, bahkan sangat tampan, kukira. Setelah namja itu selesai membersihkan rambutnya yang masih basah, lalu ia menghampiriku.
“ jeoneun neomu gomawo, nuna” pekik namja itu sambil tersenyum lebar, sampai deretan giginya yang putih terlihat.
“ne, cheonma. Hmm, tolong jangan panggil aku nuna. Aku berasa terlihat lebih tua dari umurku sekarang, hehe. Panggil saja aku chae rim” kataku sambil meunjukkan senyumku juga.
“oh, maaf chae rim-ssi. Kau ternyata memang tidak terlihat tua, bahkan kau terlihat muda dan manis. Maaf sekali lagi, tadi aku dalam keadaan mendesak dengan sabun yang penuh dimukaku. Jadi aku tidak melihat wajahmu yang muda ini. Hehe” ia tertawa lagi.
“apa? Dia berkata bahwa aku muda dan manis? Ya ampun, senangnya” batinku
“oh ya, jeonuen joo won imnida. Aku adalah tetanggamu di motel ini. Kamarku persis setelah 2 kamar dari kamarmu ini. Jadi, kalau kau ingin meminta bantuan, ketuk saja pintu kamarku yaa” kata namja yang ternyata bernama joo won itu. Dan langsung pergi dari kamarku.
Namja itu terlihat keluar dari kamar mandiku dengan T-shirt putih dan jeans hitam dan tentu saja tidak dengan handuk dan sabun yang berada di tubuh dan wajahnya lagi. Namja itu berubah menjadi tampan, bahkan sangat tampan, kukira. Setelah namja itu selesai membersihkan rambutnya yang masih basah, lalu ia menghampiriku.
“ jeoneun neomu gomawo, nuna” pekik namja itu sambil tersenyum lebar, sampai deretan giginya yang putih terlihat.
“ne, cheonma. Hmm, tolong jangan panggil aku nuna. Aku berasa terlihat lebih tua dari umurku sekarang, hehe. Panggil saja aku chae rim” kataku sambil meunjukkan senyumku juga.
“oh, maaf chae rim-ssi. Kau ternyata memang tidak terlihat tua, bahkan kau terlihat muda dan manis. Maaf sekali lagi, tadi aku dalam keadaan mendesak dengan sabun yang penuh dimukaku. Jadi aku tidak melihat wajahmu yang muda ini. Hehe” ia tertawa lagi.
“apa? Dia berkata bahwa aku muda dan manis? Ya ampun, senangnya” batinku
“oh ya, jeonuen joo won imnida. Aku adalah tetanggamu di motel ini. Kamarku persis setelah 2 kamar dari kamarmu ini. Jadi, kalau kau ingin meminta bantuan, ketuk saja pintu kamarku yaa” kata namja yang ternyata bernama joo won itu. Dan langsung pergi dari kamarku.
30 menit setelah joo won meninggalkan kamarku...
Aku merasakan ada seseorang yang memperhatikanku dari belakang. Dengan cepatnya aku menoleh dan benar saja, sudah ada min woo tepat dibelakangku sedang memandangiku penuh dengan keheranan.
“kau? Kenapa kau sudah ada disini? Apa kau tadi sudah mengetuk pintu terlebih dahulu? “ tanyaku dengan penuh emosi. Aku masih kesal dengannya.
“tidak, aku tidak mengetuk pintumu” jawabnya datar.
“ah, kau memang lelaki tak punya tata krama”
“kenapa kau berbicara seperti itu tentangku? Aku ini kan sahabatmu dari kecil”
“jadi maksudmu, kalau kau sahabatku dari kecil, kau boleh seenaknya saja masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu dulu?” tanya ku dengan suara tinggi.
“ya mungkin saja” jawabnya singkat. Aku langsung kaget ketika ia menjawab pertanyaanku seperti itu. Namun, masih kutahan emosiku karena takut terdengar oleh joo won. Min woo masih menatapku dengan tatapan tajam.
“Hey kau! Mengapa menatapku seperti itu? Memang ada apa dengan mukaku?”
“kau daritadi kuperhatikan tersenyum terus. Ada apa?” tanyanya ingin tahu.
“gak ada apa-apa. Udah kamu keluar aja, aku gak enak kalo orang-orang sampe ngeliat kita berdua disini” lalu akupun langsung mendorongnya keluar dari kamarku. Setelah itu, kututup pintu kamarku dengan kencang. Berharap min woo memperhatikan hal ini.
Aku merasakan ada seseorang yang memperhatikanku dari belakang. Dengan cepatnya aku menoleh dan benar saja, sudah ada min woo tepat dibelakangku sedang memandangiku penuh dengan keheranan.
“kau? Kenapa kau sudah ada disini? Apa kau tadi sudah mengetuk pintu terlebih dahulu? “ tanyaku dengan penuh emosi. Aku masih kesal dengannya.
“tidak, aku tidak mengetuk pintumu” jawabnya datar.
“ah, kau memang lelaki tak punya tata krama”
“kenapa kau berbicara seperti itu tentangku? Aku ini kan sahabatmu dari kecil”
“jadi maksudmu, kalau kau sahabatku dari kecil, kau boleh seenaknya saja masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu dulu?” tanya ku dengan suara tinggi.
“ya mungkin saja” jawabnya singkat. Aku langsung kaget ketika ia menjawab pertanyaanku seperti itu. Namun, masih kutahan emosiku karena takut terdengar oleh joo won. Min woo masih menatapku dengan tatapan tajam.
“Hey kau! Mengapa menatapku seperti itu? Memang ada apa dengan mukaku?”
“kau daritadi kuperhatikan tersenyum terus. Ada apa?” tanyanya ingin tahu.
“gak ada apa-apa. Udah kamu keluar aja, aku gak enak kalo orang-orang sampe ngeliat kita berdua disini” lalu akupun langsung mendorongnya keluar dari kamarku. Setelah itu, kututup pintu kamarku dengan kencang. Berharap min woo memperhatikan hal ini.
Malam hari jam 8...
aku berniat untuk mandi, namun aku langsung kaget ketika melihat handuk putih berada di gantungan baju didalam kamar mandiku.
“handuk siapa ini?” tanyaku sendiri.
Langsung saja aku meningat-ingat apa ada orang yang masuk kesini.
“ah, mungkin ini punya joo won”
aku berniat untuk mengembalikan handuk ini kepadanya dan pergi keluar untuk kekamarnya.
aku berniat untuk mandi, namun aku langsung kaget ketika melihat handuk putih berada di gantungan baju didalam kamar mandiku.
“handuk siapa ini?” tanyaku sendiri.
Langsung saja aku meningat-ingat apa ada orang yang masuk kesini.
“ah, mungkin ini punya joo won”
aku berniat untuk mengembalikan handuk ini kepadanya dan pergi keluar untuk kekamarnya.
Di depan kamar Joo won...
“Tokk tokk tokk” aku mengetuk pintu kamar joo won sambil memegang handuknya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar joo won terbuka dan muncul namja semampai yang tak lain adalah joo won. Aku langsung menyodorkan handuknya itu.
“Ini”
“wah, maaf ya merepotkanmu karena handukku ini” ujarnya sambil tersenyum. Sungguh namja ini sangat murah senyum.
“ne, cheonma”
“sudah 2 kali kau membantuku. Pertama, kau sudah meminjamkan kamar mandimu. Kedua, kau menyempatkan diri mengembalikan handuk ini. Gomawo chae rim” ujarnya lagi sambil memelukku. Apa? Dia memelukku?...
“Tokk tokk tokk” aku mengetuk pintu kamar joo won sambil memegang handuknya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar joo won terbuka dan muncul namja semampai yang tak lain adalah joo won. Aku langsung menyodorkan handuknya itu.
“Ini”
“wah, maaf ya merepotkanmu karena handukku ini” ujarnya sambil tersenyum. Sungguh namja ini sangat murah senyum.
“ne, cheonma”
“sudah 2 kali kau membantuku. Pertama, kau sudah meminjamkan kamar mandimu. Kedua, kau menyempatkan diri mengembalikan handuk ini. Gomawo chae rim” ujarnya lagi sambil memelukku. Apa? Dia memelukku?...
Min Woo’s POV
Malam ini aku sangat sangat tidak ingin tidur, aku berniat untuk mengetuk kamar chae rim yang berada di depan kamarku untuk mengajaknya mengobrol, kalau ia belum tidur. Namun aku kaget ketika melihat dari arah sana terlihat seperti seorang yeoja yang kukenal. Yeoja itu seperti chae rim. Tapi...
“siapa namja itu? Dan buat apa chae rim ke kamarnya?” Semua pertanyaan ini terus memutar dikepalaku dan aku ingin mengetahui jawabannya dengan mendekatkan diri kepada mereka, tapi tentu saja jangan sampai terlihat.
Beberapa menit setelah saling berbincang, aku kaget saat namja itu berterimakasih kepada chae rim karena telah meminjamkan kamar mandinya, dan parahnya lagi namja itu tiba-tiba langsung memeluk chae rim. Ya ampun, ada apa dengan semua ini sebenarnya?
“siapa namja itu? Dan buat apa chae rim ke kamarnya?” Semua pertanyaan ini terus memutar dikepalaku dan aku ingin mengetahui jawabannya dengan mendekatkan diri kepada mereka, tapi tentu saja jangan sampai terlihat.
Beberapa menit setelah saling berbincang, aku kaget saat namja itu berterimakasih kepada chae rim karena telah meminjamkan kamar mandinya, dan parahnya lagi namja itu tiba-tiba langsung memeluk chae rim. Ya ampun, ada apa dengan semua ini sebenarnya?
Keesokkan harinya...
“chae rim!!” aku memanggil sahabatku itu yang kebetulan sedang keluar dari kamarnya.
Ia menatapku dengan penuh keheranan, mungkin karena wajahku ini sedang menggebu-gebunya, namun ia tetap menghampiriku.
“ada apa?” tanyanya masih dengan nada ketus.
“kau!! (sambil menunjuk wajahnya) apa yang kau lakukan semalam? Siapa namja itu dan mengapa ia memelukmu?” aku langsung menyodorkan sejumlah pertanyaan. Chae rim terlihat tak berkutik.
“apa ini yang membuat kau terlihat senyum-senyum sendiri kemarin? Karena namja itu datang ke kamarmu dan merayumu? Iya?” tanyaku dengan suara keras.
“apa maksudmu?” tanyanya penuh dengan keheranan.
“Apa maksudku? Aku sedang bertanya kepadamu, siapa namja itu?”
“kau tiba-tiba memanggilku dan langsung saja memarahiku dengan sejumlah pertanyaan yang sebetulnya gak penting buat kau pertanyakan. Aku mau dekat dengan namja itu ataupun namja ini, itu bukan urusanmu. Aku bukan siapa-siapa mu!” tiba-tiba chae rim langsung menyerang balik dengan memaki-maki ku.
“aku ini sahabatmu”
“Kau hanya sahabatku, bukan namjachingu ku” jawabnya sambil berteriak dan meninggalkanku.
Aku syok...
Ia menatapku dengan penuh keheranan, mungkin karena wajahku ini sedang menggebu-gebunya, namun ia tetap menghampiriku.
“ada apa?” tanyanya masih dengan nada ketus.
“kau!! (sambil menunjuk wajahnya) apa yang kau lakukan semalam? Siapa namja itu dan mengapa ia memelukmu?” aku langsung menyodorkan sejumlah pertanyaan. Chae rim terlihat tak berkutik.
“apa ini yang membuat kau terlihat senyum-senyum sendiri kemarin? Karena namja itu datang ke kamarmu dan merayumu? Iya?” tanyaku dengan suara keras.
“apa maksudmu?” tanyanya penuh dengan keheranan.
“Apa maksudku? Aku sedang bertanya kepadamu, siapa namja itu?”
“kau tiba-tiba memanggilku dan langsung saja memarahiku dengan sejumlah pertanyaan yang sebetulnya gak penting buat kau pertanyakan. Aku mau dekat dengan namja itu ataupun namja ini, itu bukan urusanmu. Aku bukan siapa-siapa mu!” tiba-tiba chae rim langsung menyerang balik dengan memaki-maki ku.
“aku ini sahabatmu”
“Kau hanya sahabatku, bukan namjachingu ku” jawabnya sambil berteriak dan meninggalkanku.
Aku syok...
1 jam setelah kejadian itu aku berniat untuk pergi ketempat segar untuk menenangkan pikiranku. Sumpah, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatku ini. Sesungguhnya aku ingin bercerita dengannya antara aku dan yeojachingu ku. Tapi...
Tiba-tiba saja aku yang sedang memikirkan kejadian 1 jam yang lalu sambil berjalan di taman dekat sauna jeju terhenti sejenak saat melihat yeoja yang tak lain chae rim sedang bersama namja tadi malam di bangku panjang taman.
“Dengan namja itu lagi?” tanyaku.
Karena aku penasaran, ingin tahu siapa namja itu sebenarnya, dengan mental yang kurasa siap akhirnya aku mendekati mereka berdua
Tiba-tiba saja aku yang sedang memikirkan kejadian 1 jam yang lalu sambil berjalan di taman dekat sauna jeju terhenti sejenak saat melihat yeoja yang tak lain chae rim sedang bersama namja tadi malam di bangku panjang taman.
“Dengan namja itu lagi?” tanyaku.
Karena aku penasaran, ingin tahu siapa namja itu sebenarnya, dengan mental yang kurasa siap akhirnya aku mendekati mereka berdua
Chae Rim’s POV
Karena kejadian tadi pagi antara aku dan Min woo membuat otakku mumat, akhirnya aku berniat untuk mengajak joo won berjalan sebentar di taman dekat sauna jeju. Namun ketika sudah sampai dan berbincang sebentar tentang masalahku yang aku hadapi dengan Min woo, tiba-tiba saja orang yang kita ceritakan, Min woo datang dan menghampiri kami.
“Hey, sedang apa kalian disini?” tanya Min woo.
Joo won yang belum tahu wajah min woo langsung menyenggol lengan ku dan berbisik ditelingaku.
“ini sahabatmu? Yang bernama ...” mungkin ketika joo won berbisik kearahku dan terdengar oleh min woo sehingga min woo memotong perkataan joo won.
“Ne, aku No min woo, sahabat chae rim” jawab min woo agak ketus.
“oh, yee. Saya joo won” tiba-tiba saja tangan joo won merangkul dipundakku. Aku langsung melihat ekspresi wajah min woo yang berubah menjadi merah.
Aku terkejut dengan sikapnya itu dan berbisik kearahnya “Joo won, apa yang sedang kau lakukan?”
“Sudah, tenang saja” jawabnya singkat.
“jadi kau joo won yang waktu itu tertinggal handuknya di kamar mandi chae rim? Namja yang langsung memeluk chae rim?” tiba-tiba emosi min woo tak dapat terkendalikan.
“ya memang kenapa?” tanya joo won.
“memangnya kau siapa main memeluk chae rim seenaknya begitu?” tanya min woo yang membuat joo won tiba-tiba berdiri. Terlihat jelas joo won lebih semampai daripada min woo.
“kau mau tau aku siapanya chae rim?” joo won malah balik bertanya pada min woo dan menarik lenganku sampai aku yang semulanya duduk menjadi berdiri dan mendekat dengan wajahnya sampai ...
Terasa bibir ku dan joo won beradu. “Apa? Joo won menciumku? Didepan min woo?” aku terkejut. Namun aku bingung, kenapa aku menikmati ini dan tidak melepasnya.
Ketika sudah 1 menit tak ada respon dari min woo, aku langsung menghentikan tindakan ini dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan tangisan. Sungguh, aku sangat malu dengan apa yang sedang aku lakukan dengan joo won tadi. Bisa-bisanya kami berciuman ditempat umum seperti itu.
“Hey, sedang apa kalian disini?” tanya Min woo.
Joo won yang belum tahu wajah min woo langsung menyenggol lengan ku dan berbisik ditelingaku.
“ini sahabatmu? Yang bernama ...” mungkin ketika joo won berbisik kearahku dan terdengar oleh min woo sehingga min woo memotong perkataan joo won.
“Ne, aku No min woo, sahabat chae rim” jawab min woo agak ketus.
“oh, yee. Saya joo won” tiba-tiba saja tangan joo won merangkul dipundakku. Aku langsung melihat ekspresi wajah min woo yang berubah menjadi merah.
Aku terkejut dengan sikapnya itu dan berbisik kearahnya “Joo won, apa yang sedang kau lakukan?”
“Sudah, tenang saja” jawabnya singkat.
“jadi kau joo won yang waktu itu tertinggal handuknya di kamar mandi chae rim? Namja yang langsung memeluk chae rim?” tiba-tiba emosi min woo tak dapat terkendalikan.
“ya memang kenapa?” tanya joo won.
“memangnya kau siapa main memeluk chae rim seenaknya begitu?” tanya min woo yang membuat joo won tiba-tiba berdiri. Terlihat jelas joo won lebih semampai daripada min woo.
“kau mau tau aku siapanya chae rim?” joo won malah balik bertanya pada min woo dan menarik lenganku sampai aku yang semulanya duduk menjadi berdiri dan mendekat dengan wajahnya sampai ...
Terasa bibir ku dan joo won beradu. “Apa? Joo won menciumku? Didepan min woo?” aku terkejut. Namun aku bingung, kenapa aku menikmati ini dan tidak melepasnya.
Ketika sudah 1 menit tak ada respon dari min woo, aku langsung menghentikan tindakan ini dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan tangisan. Sungguh, aku sangat malu dengan apa yang sedang aku lakukan dengan joo won tadi. Bisa-bisanya kami berciuman ditempat umum seperti itu.
Malam hari sekitar jam 9...
Saat ini aku sedang menangis, aku tak tahu sebenarnya apa yang membuatku menangis. Karena aku malu, atau apa aku tak tahu. Aku bingung.
Tokk tokk tokk... terdengar bunyi ketukan pintu saat aku berada di kamar dengan sisa-sisa tisu bekas air mataku yang berserakan di tempat tidur. Aku berharap itu Min Woo. Ketika ku buka pintu...
“this is for you. I think this tissue can help you, for erase your tears” joo won langsung menyodorkan 1 lembar tisu padaku.
“huh, kukira kau...” perkataanku langsung kuhentikan.
“siapa? Min woo?” tanyanya menebak. Aku langsung menunduk dan tanpa terasa air mataku terjatuh lagi. Joo won yang mengetahui itu langsung menaikkan kepalaku dengan memegang daguku. Lalu saat wajahku dan wajahnya berhadapan, air mata yang berada dipipiku segera ia hapuskan dengan jarinya.
“don’t cry again, chae rim”
Langsung saja aku memeluknya karena tak kuat harus menangis dihadapannya.
Saat ini aku sedang menangis, aku tak tahu sebenarnya apa yang membuatku menangis. Karena aku malu, atau apa aku tak tahu. Aku bingung.
Tokk tokk tokk... terdengar bunyi ketukan pintu saat aku berada di kamar dengan sisa-sisa tisu bekas air mataku yang berserakan di tempat tidur. Aku berharap itu Min Woo. Ketika ku buka pintu...
“this is for you. I think this tissue can help you, for erase your tears” joo won langsung menyodorkan 1 lembar tisu padaku.
“huh, kukira kau...” perkataanku langsung kuhentikan.
“siapa? Min woo?” tanyanya menebak. Aku langsung menunduk dan tanpa terasa air mataku terjatuh lagi. Joo won yang mengetahui itu langsung menaikkan kepalaku dengan memegang daguku. Lalu saat wajahku dan wajahnya berhadapan, air mata yang berada dipipiku segera ia hapuskan dengan jarinya.
“don’t cry again, chae rim”
Langsung saja aku memeluknya karena tak kuat harus menangis dihadapannya.
Keesokkan harinya...
Ketika aku sedang ingin keluar, tiba-tiba dibawah pintu kamar sudah ada sebungkus tisu. Tertulis ‘Jangan tanggung-tanggung kalau memberi tisu. Aku tunggu kamu di pulau jeju jam 10 pagi. No Min Woo'
“Maksud dia apa? Memintaku untuk nangis terus menur mangkanya dia memberiku tisu ini?” tanya ku dalam hati. Lalu langsung kulihat jam, jam telah menunjukkan pukul 10 kurang 10 menit. Langsung ku ambil jaketku untuk menemui Min woo. Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.
Ketika aku sedang ingin keluar, tiba-tiba dibawah pintu kamar sudah ada sebungkus tisu. Tertulis ‘Jangan tanggung-tanggung kalau memberi tisu. Aku tunggu kamu di pulau jeju jam 10 pagi. No Min Woo'
“Maksud dia apa? Memintaku untuk nangis terus menur mangkanya dia memberiku tisu ini?” tanya ku dalam hati. Lalu langsung kulihat jam, jam telah menunjukkan pukul 10 kurang 10 menit. Langsung ku ambil jaketku untuk menemui Min woo. Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.
Di pulau jeju...
“chae rim, sebelah sini” teriak Min woo dari kejauhan. Aku menghampirinya dan langsung melemparkan tisu darinya yang sedang kubawa saat ini.
“maksudmu apa ngasih aku tisu sebanyak ini? Mau aku nangis terus?”
“ya, aku mau. Aku mau kalau kamu nangis terus menerus karena aku”
“huh, sahabat macam apa kau” jawabku ketus sambil membalikkan badan darinya.
“yah, marah lagi. Sebenarnya kamu kenapa sih? Marah-marah terus dari 2 hari yang lalu?”
Min woo menanyakan hal itu, kata-kata yang sebetulnya telah kutunggu-tunggu dari 2 hari yang lalu.
“oh ya, aku dan yeojachingu ku, samantha, kita ng... ng... kita putus” pekikknya terbata-bata.
“putus?” tanyaku tak percaya. Lalu membalikkan badan lagi.
“ne, bukannya ini yang kau minta?”
“kau tau darimana?”
“dari joo won, Moon Joo won”
“apa? Darinya? Hmm, dasar dia yaa, sudah kusuruh untuk tutup mulut, tapi dia tetap menceritakan hal itu” aku sangat marah pada joo won saat ini. Aku berniat untuk menghampiri kamarnya untuk memarahinya. Tapi ketika aku ingin berlari, Tiba-tiba min woo menarik lenganku dan menghentikan niatku.
“kau mau kemana?” tanyanya
“aku...” belum sempat aku berbicara, min woo sudah menarik lenganku dan membawaku kedalam pelukannya.
“chae rim, aku... ng... ng. Saranghaeyo” pekikknya. Aku kaget, min woo sahabatku menyatakan cintanya padaku? Tak seharusnya seorang sahabat berkata seperti ini. Tak seharusnya...
“Min Woo?” tanyaku tak percaya.
“chae rim, sebelah sini” teriak Min woo dari kejauhan. Aku menghampirinya dan langsung melemparkan tisu darinya yang sedang kubawa saat ini.
“maksudmu apa ngasih aku tisu sebanyak ini? Mau aku nangis terus?”
“ya, aku mau. Aku mau kalau kamu nangis terus menerus karena aku”
“huh, sahabat macam apa kau” jawabku ketus sambil membalikkan badan darinya.
“yah, marah lagi. Sebenarnya kamu kenapa sih? Marah-marah terus dari 2 hari yang lalu?”
Min woo menanyakan hal itu, kata-kata yang sebetulnya telah kutunggu-tunggu dari 2 hari yang lalu.
“oh ya, aku dan yeojachingu ku, samantha, kita ng... ng... kita putus” pekikknya terbata-bata.
“putus?” tanyaku tak percaya. Lalu membalikkan badan lagi.
“ne, bukannya ini yang kau minta?”
“kau tau darimana?”
“dari joo won, Moon Joo won”
“apa? Darinya? Hmm, dasar dia yaa, sudah kusuruh untuk tutup mulut, tapi dia tetap menceritakan hal itu” aku sangat marah pada joo won saat ini. Aku berniat untuk menghampiri kamarnya untuk memarahinya. Tapi ketika aku ingin berlari, Tiba-tiba min woo menarik lenganku dan menghentikan niatku.
“kau mau kemana?” tanyanya
“aku...” belum sempat aku berbicara, min woo sudah menarik lenganku dan membawaku kedalam pelukannya.
“chae rim, aku... ng... ng. Saranghaeyo” pekikknya. Aku kaget, min woo sahabatku menyatakan cintanya padaku? Tak seharusnya seorang sahabat berkata seperti ini. Tak seharusnya...
“Min Woo?” tanyaku tak percaya.
“aku mencintaimu, chae rim. Aku sadar, perlakuanmu 2 hari ini saat kau berduaan bersama joo won, telah membuat hatiku sakit. Aku tahu ini salah, aku tahu seharusnya tak ada cinta diantara persahabatan kita. Tapi aku juga bingung, tiba-tiba rasa sakit itu muncul ketika kau bersama namja itu. Ternyata aku mencintaimu...” ujarnya panjang lebar.
“tapi...”
“dan aku tahu kamu mencintaiku juga kan?” tanyanya kepedean. Lalu aku langsung melepas pelukannya dan pergi meninggalkan min woo dengan pertanyaannya.
“tapi...”
“dan aku tahu kamu mencintaiku juga kan?” tanyanya kepedean. Lalu aku langsung melepas pelukannya dan pergi meninggalkan min woo dengan pertanyaannya.
Di depan kamar Joo won...
Aku tadi meninggalkan min woo dengan pertanyaan yang kuanggap sebetulnya tidak harus kujawab saat ini “Biarkan saja dia bertanya-tanya. Haha”
Langsung ku gedor pintu kamar joo won dan sudah bersiap-siap untuk memarahinya.
Tiba-tiba sudah muncul seorang namja semampai di depanku.
“Kau! Mengapa kau menceritakan itu padanya? Pada min woo? Aduh, aku kecewa padamu. Kau namja yang tidak bisa menjaga rahasia. Seb...” belum selesai aku berbicara. Mulutku sudah dibungkam olehnya.
“apa? Dia menciumku, lagi?” tanyaku dalam hati. Langsung saja kulepaskan ciumannya itu dan mendorongnya.
“kenapa kau malah menciumku?” tanyaku sambil memegang bibirku.
“kau tahu? Kau ini yeoja cerewet” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“ah, dasar. Tapi kau tidak harus menciumku”
Tiba-tiba joo won menatapku
“chae rim, aku mencintaimu...” ujarnya singkat.
“mencintaiku?” batinku. Ya ampun, sudah 2 namja yang menyatakan cintanya padaku hari ini. Hari terakhir aku di pulau Jeju. Betapa beruntungnya aku.
“aku...” belum selesai aku berbicara, joo won sudah memelukku.
“tak usah dijawab, chae rim. Aku tahu kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Aku tau kau lebih memilih Min woo”
“Joo won” gumamku.
“aku cuma ingin menyatakan ini agar hatiku dan perasaanku lega melepasmu pergi dari Jeju ini” ujarnya.
“Joo won, maafkan aku”
“tidak apa-apa. Aku sudah tau, sudah sana pergi” katanya lalu melepaskan pelukannya.
Lalu aku langsung berlari dari motel menuju pulau jeju.
Aku tadi meninggalkan min woo dengan pertanyaan yang kuanggap sebetulnya tidak harus kujawab saat ini “Biarkan saja dia bertanya-tanya. Haha”
Langsung ku gedor pintu kamar joo won dan sudah bersiap-siap untuk memarahinya.
Tiba-tiba sudah muncul seorang namja semampai di depanku.
“Kau! Mengapa kau menceritakan itu padanya? Pada min woo? Aduh, aku kecewa padamu. Kau namja yang tidak bisa menjaga rahasia. Seb...” belum selesai aku berbicara. Mulutku sudah dibungkam olehnya.
“apa? Dia menciumku, lagi?” tanyaku dalam hati. Langsung saja kulepaskan ciumannya itu dan mendorongnya.
“kenapa kau malah menciumku?” tanyaku sambil memegang bibirku.
“kau tahu? Kau ini yeoja cerewet” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“ah, dasar. Tapi kau tidak harus menciumku”
Tiba-tiba joo won menatapku
“chae rim, aku mencintaimu...” ujarnya singkat.
“mencintaiku?” batinku. Ya ampun, sudah 2 namja yang menyatakan cintanya padaku hari ini. Hari terakhir aku di pulau Jeju. Betapa beruntungnya aku.
“aku...” belum selesai aku berbicara, joo won sudah memelukku.
“tak usah dijawab, chae rim. Aku tahu kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Aku tau kau lebih memilih Min woo”
“Joo won” gumamku.
“aku cuma ingin menyatakan ini agar hatiku dan perasaanku lega melepasmu pergi dari Jeju ini” ujarnya.
“Joo won, maafkan aku”
“tidak apa-apa. Aku sudah tau, sudah sana pergi” katanya lalu melepaskan pelukannya.
Lalu aku langsung berlari dari motel menuju pulau jeju.
15 menit setelahnya...
Setelah aku tiba di pulau jeju, aku berniat untuk mencari min woo, kalau-kalau dia masih ada disana. Namun, tak kutemukan batang hidungnya itu. Tiba-tiba...
“hey, yeoja!” seorang namja memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh, ternyata itu min woo.
Aku langsung menghampirinya.
“min woo, kau terlalu percaya bahwa aku mencintaimu juga” pekikku.
“ah, jangan bohong chae rim. 2 hari yang lalu kau bertindak acuh dan marah padaku karena kau cemburu karena aku menceritakan kisahku dengan samantha kan?”
“tidak... aku tak suka dengan yeoja genit itu, mangkanya aku acuh saat kau menceritakan tentangnya”
Setelah aku tiba di pulau jeju, aku berniat untuk mencari min woo, kalau-kalau dia masih ada disana. Namun, tak kutemukan batang hidungnya itu. Tiba-tiba...
“hey, yeoja!” seorang namja memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh, ternyata itu min woo.
Aku langsung menghampirinya.
“min woo, kau terlalu percaya bahwa aku mencintaimu juga” pekikku.
“ah, jangan bohong chae rim. 2 hari yang lalu kau bertindak acuh dan marah padaku karena kau cemburu karena aku menceritakan kisahku dengan samantha kan?”
“tidak... aku tak suka dengan yeoja genit itu, mangkanya aku acuh saat kau menceritakan tentangnya”
“hmm, ku kira...” ujarnya percaya dengan perkataanku.
“kau ya Min woo, namja yang tidak peka dengan perasaan yeoja yang mencintaimu” jawabku keceplosan.
“apa yang kau katakan tadi? Yeoja yang mencintaimu? Maksudnya kau mencintaiku?”
aku langsung memukul kepalaku karena pabonya aku. Lalu min woo menghentikan pukulan ku dan berkata...
“Jangan sakiti dirimu sendiri, chae rim. Aku sudah tahu kau mencintaiku juga” jawabnya.
“ne, maaf aku telah berbohong padamu. Aku memang mencintamu saat kamu memperhatikanku. Tapi aku sebal denganmu, karena kau tak peka”
“aku bukannya tak peka, aku cuma tak ingin mencecarmu dengan begitu banyak pertanyaan”
Langsung saja ku peluk erat dirinya “kau bodoh, min woo. Aku justru membutuhkan pertanyaan darimu”
tiba-tiba Min woo melepaskan pelukanku
“Jadi hari ini kau yeojachinguku?” tanyanya.
“ne” jawabku
“kau ya Min woo, namja yang tidak peka dengan perasaan yeoja yang mencintaimu” jawabku keceplosan.
“apa yang kau katakan tadi? Yeoja yang mencintaimu? Maksudnya kau mencintaiku?”
aku langsung memukul kepalaku karena pabonya aku. Lalu min woo menghentikan pukulan ku dan berkata...
“Jangan sakiti dirimu sendiri, chae rim. Aku sudah tahu kau mencintaiku juga” jawabnya.
“ne, maaf aku telah berbohong padamu. Aku memang mencintamu saat kamu memperhatikanku. Tapi aku sebal denganmu, karena kau tak peka”
“aku bukannya tak peka, aku cuma tak ingin mencecarmu dengan begitu banyak pertanyaan”
Langsung saja ku peluk erat dirinya “kau bodoh, min woo. Aku justru membutuhkan pertanyaan darimu”
tiba-tiba Min woo melepaskan pelukanku
“Jadi hari ini kau yeojachinguku?” tanyanya.
“ne” jawabku
The End

0 komentar:
Posting Komentar